Harga Emas, Perak, Platinum, Palladium
     
Harga Emas Tertinggi Terendah Hari Ini

Harga Emas Bertahan Pada Kisaran Saat Ini

Harga emas tetap dalam kisaran support $1.550 per ons dan $1.600 karena adanya berita untuk mendorong nilai ke arah baru, menurut analis.

Harga naik untuk harian dan turun untuk mingguan. Kontrak emas teraktif pada bulan Agustus di divisi Comex New York Mercantile Exchange menetap di $1,582.80, turun 0,58% pada minggu berjalan. Perak bulan September menetap di $27,302 per ons, turun 0,25% pada minggu berjalan.

Dalam survei emas Kitco, dari 33 peserta, 22 diantaranya berpartisipasi minggu ini. Dari 22 peserta, 10 melihat harga naik, sementara enam melihat harga turun, dan enam lainnya netral. Pelaku pasar termasuk dealer bullion, bank investasi, trader berjangka, manager keuangan dan analis chart teknikal.

Hasil survei menegaskan bahwa pengamat pasar non komitmen mendukung logam mulia minggu depan secara keseluruhan. Banyak analis mengatakan pelemahan pada musim panas berada pada level kompleks dan tidak mengejutkan untuk melihat emas bertahan di kisaran saat ini $1.550 hingga $1.600, dengan support kuat di $1.525.

Beberapa analis mengatakan bahwa pasar mungkin mengambil tindakan karena terpengaruh dari luar.

Dunia komoditas telah memusatkan perhatiannya pada minggu terakhir ini di pasar gandum di Amerika, khususnya Chicago Board untuk perdagangan berjangka jagung dan kedelai, yang diharuskan untuk memiliki harga tertinggi diantara yang lain mengingat daerah pertanian di Midwest terkendala oleh kekeringan dan suhu yang tinggi.

“Tidak ada akhir yang terlihat untuk daya apung harga, karena situasi kekeringan yang melanda kawasan perkebunan di Midwest AS semakin genting,” kata seorang analis di Commerzbank.

Kenaikan yang tiba-tiba dalam harga berjangka untuk gandum – jagung naik sekitar 48% sejak pertengahan Juni ketika reli dimulai dan harga berjangka untuk kedelai naik sekitar 35% sejak saat itu – telah membuat beberapa pasar khawatir akan terulangnya inflasi makanan dan krisis yang terjadi pada tahun 2008.

Pada saat itu harga naik tajam dan kekhawatiran tentang kekurangan pangan global mendorong beberapa negara untuk mengeluarkan larangan ekspor biji-bijian, yang kemungkinan memperburuk situasi. Sejauh ini tidak ada diskusi tentang pembatasan perdagangan.

Namun, beberapa komentator pasar khawatir tentang dampak melemahnya perekonomian secara keseluruhan. “Di awal pertumbuhan kami khawatir tentang dampak global yang datang secara tiba-tiba, harga komoditas meningkat secara berkelanjutan.” kata Nomura analis.

Tapi tidak semua orang mengatakan logam mulia (belum) mengkhawatirkan menurut Bob Haberkorn, broker komoditas senior di RJO Futures, yang mengharapkan emas untuk tetap berada pada kisaran saat ini.

KURANGNYA STIMULUS MONETER YANG BARU MEMBUAT EMAS MENURUN

Emas menerima sedikit manfaat dari Ketua Federal Reserve Ben Bernanke yang berdiskusi dengan Kongres AS untuk membahas kebijakan moneter dan tanpa stimulus baru emas akan melemah, kata analis. Kecuali jika ada katalis lain, kisaran perdagangan tersebut merupakan “rumah” bagi emas saat ini.

Analis Deutsche Bank mengatakan ini mungkin merupakan kasus untuk bulan depan “karena kebijakan moneter kemungkinan tidak ada.”

Pertemuan Federal Open Market Committee minggu depan, namun sedikit tindakan yang diharapkan. Sebaliknya, analis mengatakan pasar akan fokus pada konferensi Fed pada bulan Agustus di Jackson Hole, Wyo, untuk mencari sinyal stimulus baru.

“Sejak musim hujan mulai tujuh pekan lalu, curah hujan India menurun 22% dari rata-rata 50-tahun. Akun penduduk pedesaan sekitar 60% dari permintaan emas India, dan tergantung pada pendapatan pertanian yang baik,” kata analis Commerzbank.

Laporan ekonomi minggu depan sepertinya tidak terlalu berdampak. Laporan terbesar adalah data produk domestik kotor AS untuk putaran kedua. Analis Nomura mengatakan mereka memperkirakan laporan tersebut akan “menunjukkan ekonomi yang melambat menjadi jauh di bawah potensi, mendukung QE3 kami.” (pits, zou)

Share

Komentar

Leave a Reply