Harga Emas, Perak, Platinum, Palladium
     
Harga Emas Tertinggi Terendah Hari Ini

Perekonomian Inggris Yang Rapuh Beresiko Untuk Memiliki Kebijakan Yang Gagal Setelah Brexit.

Hampir empat minggu telah berlalu sejak Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa dan mereka yang ingin tetap tinggal di situ mengalami kesulitan menerima hasilnya. Mereka merasa kehilangan. Mereka merasa bahwa mereka dikalahkan dengan cara curang. Mereka merasa bahwa mereka yang memilih Brexit yang tidak berpendidikan dan tidak benar-benar mengerti apa yang mereka lakukan.

Banyak dari mereka yang ada di pihak yang kalah dari perdebatan referendum tampak mengharapkan adanya penurunan perekonomian hingga mengalami resesi untuk menunjukkan pada mereka yang memilih untuk meninggalkan Uni Eropa dampak buruknya.

Namun, perekonomianm Eropa bahkan sudah melambat sebelum tanggal referendum tersebut. Inggris memiliki defisit anggaran dari 4% dari GDP, sebuah defisit neraca pembayaran dari 7% dari GDP dan catatan produktivitas terburuk terbaru dari negara G7, Italia.

Secara tradisional, investasi adalah faktor berayun dalam siklus ekonomi. Jika bisnis dinilai positif untuk masa depan, mereka memperbanyak kit baru, dan meningkatkan produksi nasional. Dan, ketika mereka berhati-hati, karena mereka yakin untuk sekarang, mereka merencanakan  pengeluaran dengan seksama dan GDP melemah.

Tingkat konsumsi konsumen juga akan menurun karena adanya inflasi yang naik sehingga mempengaruhi jatuhnya poundsterling di pasar import.  Namun ekspor akan menjadi lebih murah, dan akan membantu meningkatkan output, meskipun tidak banyak, kecuali permintaan global pulih dari tingkat depresi saat ini.

Maka dari itu, perlambatan ekonomi nampaknya tidak bisa dihindari. Tingkat dan durasi perlambatan akan tergantung pada tindakan yang diambil oleh Bank of England dan Treasury, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi pemerintah untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada Inggris setelah keluar dari Eropa.

Mereka yang memilih Brexit tidak mengerti apa yang dipertaruhkan. Namun bukti-bukti menunjukkan bahwa banyak dari mereka yang memilih untuk meninggalkan Eropa mengetahui risiko bahwa mereka akan mengalaimi krisis jangka pendek jika mereka meninggalkan Eropa, dan mereka bersedia untuk mengambil risiko.

Sebuah pidato yang diberikan minggu lalu oleh Andy Haldane, kepala ekonom di Bank, membantu menjelaskan mengapa begitu banyak orang yang tergerak oleh argumen George Osborne bahwa Inggris akan memberikan suara untuk resesi jika negara memilih untuk Brexit. Pada kunjungan ke Nottingham, Haldane mengatakan bahwa bagi banyak orang, resesi yang diikuti krisis keuangan tahun 2008 tidak pernah berakhir. (Pr)



Informasi dan Berita Lainnya:

Share

Komentar

Leave a Reply




%d bloggers like this: